Rekayasa dan Pengembangan Alsin Teknologi Produksi pada Tanaman Kentang Secara Teknis (2002)

Prabowo, Abi; Budiastuti, MJ.Tjaturetna; Mulyantara, Lilik Tri
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditi sayuran mempunyai harga jual relatif  tetap dibanding tanaman sayuran lainnya. Budidaya tanaman tersebut umumnya dilakukan pada wilayah dataran tinggi di atas 500 m dari permukaan laut. Untuk meningkatkan produktivitas sekaligus meningkatkan efisiensi usahataninya maka alsin pertanian budidaya menjadi salah satu peluang untuk diterapkan. Kendala penerapan alsintan berupa topografi lahan dan kondisi sosial-ekonomi. Pada Tahun Anggaran 2002 dilakukan 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan survei peluang penerapan alsin tanaman kentang dan rekayasa prototipe alsin pendukung budidaya tanaman kentang. Kegiatan survei dilakukan di dua sentra pertanaman kentang yaitu Kab. Karo (Sumatera Utara) dan Kab. Enrekang (Sulawesi Selatan), sedangkan perekayasaan alat di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong. Hasil survei menunjukkan bahwa:

1.    Jenis tanah pada wilayah pertanaman kentang umumnya termasuk dalam tekstur tanah ringan dengan kisaran nilai cone index antara 8 – 19 kg/cm2. Kedalaman olah tanah antara 15 – 40 cm. Pada kondisi tanah seperti itu daya yang dipergunakan untuk menggerakan alsin pengolah tanah antara 1,2 – 7 HP atau mulai dari tenaga ternak sampai traktor tangan.
2.    Kendala untuk pengoperasian alsintan adalah kelerengan lahan yang umumnya lebih besar dari 8%, sehingga lebar lahan menjadi sempit.  Oleh karena itu alsin pertanian yang cocok dioperasikan harus ringan (< 7,5 HP).
3.    Klas teknologi yang sepadan dengan kondisi sosial-ekonomi petani adalah pada KT-1 dengan masukan teknologi masih sederhana sehingga mudah menangani segala permasalahan (teknis, ekonomis, kelembagaan) yang muncul.
4.    Untuk petani dengan kepemilikan lahan > 0,5 ha sangat memungkinkan untuk memiliki alsintan, minimal untuk pengolahan dan penggulud tanah, karena keuntungan bersih per hektar bisa mencapai Rp. 10.000.000 – Rp. 15.000.000 per musim (8 bulan).
5.    Prototipe alat pengukur kebutuhan tanaman kentang sudah dapat berfungsi, namum masih harus diuji dengan berbagai jenis tanah dan kondisi iklim mikro berbeda.
6.    Nilai kebutuhan air tanaman kentang adalah 470 mm/musim.
7.    Prototipe alsin penggulud mampunyai kecepatan kerja rata-rata = 2,45 km/jam, slip roda traktor rata-rata = 8,17 %, lebar guludan rata-rata = 58,9 cm, lebar kerja pengguludan rata-rata = 98,8 cm, tinggi guludan rata-rata = 25,6 cm, kapasitas kerja = 4,97 jam/ha, efisiensi kerja = 75,5 %, dan konsumsi bahan bakar = 5,34 l/ha.
8.    Uji mesin di  Jawa Barat, kapasitas kerja 5,75 jam/ha dan biaya operasi Rp. 43.670/ha. Penggunaan mesin layak secara ekonomis dibandingkan cara manual yang mencapai  Rp. 100.000/ha.


HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...