Analisis Sistem Mekanisasi Produksi Jagung dan Pengelolaan Pasca Panennya di Indonesia (1998)

Prastowo, Bambang
Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lainnya, Maros

Produksi dan Produktifitas Tanaman Jagung Propinsi Jawa Timur dipilih sebagai daerah penelitian dengan sasaran wilayah kegiatan di Kediri, Pare, Probolinggo, Lamongan, Lumajang dan Malang. Masing-masing wilayah kegiatan diwakili 3 kelompok besar agroekosistem yaitu lahan sawah irigasi,  lahan sawah tadah hujan, lahan kering iklim basah dan lahan kering iklim kering. Terpilihnya wilayah propinsi Jawa Timur sebagai sasaran kegiatan penelitian oleh karena 37% dari total luas panen jagung di Indonesia ( 3.359.752 ha) berada di  propinsi tersebut  (BPS, 1991).  Selain memiliki luas panen terbesar di Indonesia juga memiliki produktifitas Jagung yang cukup tinggi (2,69 ton/ha) yaitu urutan ke 2 setelah propinsi Jawa Tengan (2,77 ton/ha) (BPS, 1997). Produktifitas hasil jagung tertinggi di Jawa Timur berada di Probolinggo (3,6 ton/ha), diikuti oleh Lumajang (3,4 ton/ha), Kediri dan Pare (3,3 ton/ha) serta Malang dan Lamongan masing-masing 2,9 ton/ha (EPS Jatim, 1997). Urutan produksi tertinggi adalah Probolinggo (257,572 ton), Malang, Lamongan, Lumajang, serta terendah adalah Kediri dan Pare yaitu 152,348 ton (EPS Jatim, 1997). Dari hasil survei diperoleh gambaran taraf pemanfaatan alat dan mesin pertanian dalam produksi dan pengelolaan pasca panen jagung. Dukungan alat dan mesin pertanian mulai tahapan  pra  dan  pasca  panen  belum  terlihat  nyata. Penerapan  peralatan mekanis  yang sudah  ada  terutama  alat perontok (Corn Sheller), sedangkan peralatan pertanian yang lain masih bersifat manual dengan tenaga kerja ternak atau manusia. Kesimpulan sementara  taraf teknologi mekanis yang diterapkan petani dalam produksi jagung dan pengelolaan pasca panennya masih terbatas, yaitu terutama hanya penggunaan traktor untuk pengolahan tanah dan alat perontok jagung untuk pascapanennya. Untuk lahan kering bahkan hanya menggunakan alat perontok jagung. Untuk lahan kering/sawah tadah hujan, pemilihan alsintan untuk mendukung penerapan sistem mekanisasi produksi jagung dan pengelolaan pascapanennya dapat mengacu kepada kriteria sebagai berikut : cara dan alsintan yang akan digunakan dalam sistem mekanisasinya diupayakan agar jumlah hari kerja orang (hok) dan biaya kerja yang diperlukan (Rp) per hektar lebih kecil dari :

Pengolahan tanah  : 22-48 hok dan atau Rp. 180-324 ribu
Penanaman   : 10-21 hok dan atau Rp. 27-105 ribu
Pemupukan    : 20-25 hok dan atau Rp. 20-120 ribu
Penyiangan   : 15-27 hok dan atau Rp. 75-135 ribu
Pengendalian H/P : 4 hok dan atau Rp. 20 ribu
Pembumbunan  : 18-56 dan atau Rp. 90-392 ribu
Pemanenan  : 10-17 hok dan atau Rp. 100-221,5 ribu
Perontokan  : 0,5-15 hok dan atau Rp. 28-160 ribu
Pengeringan : 4-16 hok dan atau Rp. 16-240 ribu
Transportasi : 2-5 hok dan atau Rp. 5-30 ribu

Selang kriteria tersebut adalah pada taraf penggunaan sarana produksi antara Rp. 260.772,- dengan hasil jagung antara 5.000 - 8.000 kg/ha, untuk jenis hibrida.  Penentuan jenis alsintan yang akan dicobakan di lapangan secara fisik akan ditentukan berdasarkan acuan jenis-jenis alsintan yang tersedia di Indonesia.


HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...