Optimasi Teknologi Penanganan Panen dan Pasca Panen Padi Secara Mekanis di Lahan Pasang Surut (1998)

Tahir, Ridwan; Handaka; Sulistiadji, Koes; Haryono
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong

Peningkatan produksi gabah / ha di lahan pasang surut Sumatera Selatan belum secara optimal dapat dimanfaatkan oleh petani. Hal ini disebabkan perbaikan teknologi produksi yang sampai saat ini terus dilakukan) belum diikuti dengan perbaikan teknologi pasca panennya. Akibatnya kekurangan tenaga kerja, cara penanganan panen dan pasca panen kurang memadai. Padi yang sudah dipotong tidak dapat segera dirontok dan tertunda di sawah dengan kondisi lahan yang lembab. Hal tersebut menyebabkan mutu GKP menurun, dan  sebagian berwarna coklat kehitam-hitaman. Dalam proses penjemuran gabah, petani lahan pasang surut umumnya melakukan dihalaman atau dijalan-jalan. Kondisi lahan yang terlalu lembab, menyebabkan proses penjemuran tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Akibat dari berbagai  hambatan tersebut, maka beras giling yang diperoleh mutu dan redemennya rendah. Agar peningkatan mutu produksi  gabah  yang  terjadi  dapat bermanfaat secara maksimal bagi petani, maka perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan cara penanganan panen dan pasca panennya. Langkah perbaikan yang segera dilakukan yaitu pada perontokan dan pengeringan. Masa panen wilayah satu berbeda dengan wilayah yang berkisar antara 45 hari sampai  83 hari dengan nilai rata-rata 58,32. Jumlah tenaga keluarga yang terlibat dalam penanganan panen dan pasca panen rata-rata 2 orang per keluarga.  Dengan asumsi  2 orang  terdiri  dari 1 laki-laki dan 1 orang perempuan,  tenaga  keluarga  dapat diinterprestasikan 1 orang laki-laki menangani panen disawah dan 1 orang perempuan menangani penjemuran sambil memasak.  Tenaga pemilik padi tidak dapat dihitung sebagai tenaga penuh  karena lebih berfungsi sebagai  tenaga pengawas dan  pelayan kebutuhan penderep. Jumlah tenaga luar keluarga yang diperoleh tiap keluarga berkisar 5 orang sampai 10 orang per musin panen ( rata-rata 7,38 orang).  Panen  dilakukan dengan  cara  gotong royong  antar  tetangga bergantian. Perontokan padi di lahan pasang surut umumnya dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara  gebot dan cara mekanis (dengan Power Thresher). Ongkos penggunaan Power Thresher oleh penderep menjadi tanggungan penderep artinya, penderep menerima bawon dari pemilik padi sebesar 1/6 di sawah atau 1/5 di rumah pemilik padi dan penderep membayar ongkos perontokan Rp. 7.100,-/kg gabah. Luas pemilikan lahan rata-rata 2,27 ha, maka panjang hari kerja perontokan gebot tiap keluarga adalah 5.40 hari/ha.


HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...