Paket Alat Mesin Pengolahan Benih Padi untuk Mendukung UPBS

Pencapaian target Kementan dalam swasembada pangan dan program surplus beras 10 juta ton pada akhir tahun 2014, dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas tanaman padi melalui penggunaan benih padi unggul dan bermutu. Penggunaan benih padi unggul bersertifikat oleh petani masih rendah, baru mencapai sekitar 62%. Hal ini  disebabkan oleh terbatasnya jumlah benih bermutu yang ada di pasaran. Volume produksi benih padi bersertifikat baru mencapai kurang lebih separuh dari kebutuhan benih padi nasional yang mencapai 360 ribu ton per tahun pada lahan padi nasional seluas 12,7 juta hektar.

Guna peningkatkan produksi dan kualitas untuk mencukupi kebutuhan benih bermutu, Pemerintah telah mendorong pembentukan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di tingkat penangkar benih maupun di BPTP sentra padi. Namun untuk pengolahan benih padi di tingkat penangkar skala kecil dan menengah masih dihadapkan pada masalah ketersediaan teknologi alat dan mesin (alsin) untuk prosesing benih. Untuk itu diperlukan dukungan paket alsin pasca panen dan pengolahan benih yang tepat guna yang dapat menghasilkan mutu benih yang baik dengan kapasitas produksi sesuai kondisi penangkar benih.

Kegiatan ini telah menghasilkan 3 (tiga) paket mesin pengolahan benih padi mendukung UPBS yang masing-masing terdiri dari mesin pembersih (sortasi), mesin penimbang, dan mesin pengemas. Untuk penakar benih yang bermasalah dengan lantai jemur, dilengkapi dengan mesin pengering padi tipe sirkulasi. Ketiga paket mesin pascapanen benih padi (mesin pembersih, mesin penimbang, dan alat pengemas) telah diintroduksikan di tingkat penangkar di 3 lokasi yaitu:(1) Kelompok Tani Giat Maju, Kab. Singkawang, Kalbar; (2) Kelompok Tani Subur Rejeki di Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah; dan (3) KelompokTani Tani Mulyo di Kab. Ngawi, Jawa Timur.

Hasil pengujian paket mesin pascapanen benih menunjukkan bahwa masing-masing alat dan mesin sudah dapat berfungsi dan beroperasi dengan baik. Mesin pembersih memiliki kapasitas antara 400–500 kg/jam (tergantung laju pengumpanan gabah dan tingkat kebersihan gabah awal). Mesin penimbang memiliki kapasitas sebesar 540 kg/jam atau 108 kemasan/jam. Tingkat akurasi hasil timbangan sebesar 99,57%. Kapasitas alat pengemas benih padi sebesar 613 kg/jam atau 122 kemasan/jam (tergantung keterampilan operator). Sedangkan mesin pengering tipe sirkulasi memiliki kapasitas muat 3,0 – 3,5 ton/proses, dengan lama pengeringan 16,5 jam pada suhu udara pengering 51,7ºC. Sistem pemanasannya adalah secara langsung dengan menggunakan bahan bakar gas LPG. Konsumsi bahan bakar gas rata-rata sebesar 1,2 kg/jam (tergantung kondisi udara luar). Hasil analisa ekonomi menunjukkan bahwa besarnya biaya operasional untuk mesin pembersih, penimbang, pengemas, dan pengering berturut-turut adalah Rp.59/kg, Rp. 29/kg, Rp. 14/kg, dan Rp.108/kg. Secara ekonomi penggunaan alat mesin pascapanen dan prosesing benih padi dapat memberikan keuntungan, dengan nilai B/C ratio masing-masing mesin antara 1,4 – 1,5 dengan nilai BEP antara 0,5 – 0,6 tahun. Untuk penggunaan mesin pengering nilai B/C ratio dan BEP masing-masing adalah 1,2 dan 2,0 tahun, artinya cukup layak.

Adapun persentase benih murni yang dihasilkan rata-rata sebesar 98,5 %, dan kotoran benih rata-rata sebesar 1,5 %. Rata-rata besarnya daya kecambah benih adalah 87% dan benih mati adalah 13,0 %. Sedangkan kandungan benih tanaman lain sebesar 0%. Secara umum dapat dikatakan bahwa mutu benih yang dihasilkan sudah dapat memenuhi persyaratan standar minimum mutu benih padi untuk kelas benih sebar (BR).

Download :

File PDF klik disini...


HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...