Cerdas, Mengelola Lahan Tanpa Bakar

Palas, 23/09/2019. Praktek pembukaan lahan dengan cara pembakaran telah lama dilakukan oleh masyarakat di Indonesia karena mudah dan murah, tetapi akibat yang ditimbulkannya lebih banyak merugikan. Selain menimbulkan kerugian langsung atas benda yang terbakar, kebakaran juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Kebakaran hutan dapat menimbulkan masalah kesehatan, gangguan transportasi, dan berkontribusi besar terhadap proses pemanasan global.

Pengelolaan lahan tanpa bakar bermanfaat karena ramah lingkungan, dapat mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah, mengurangi emisi gas rumah kaca, mempertahankan keanekaragaman hayati, menghindari masalah hukum yang merugikan, serta mengurangi polusi udara akibat kebakaran yang dapat mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi.

Baca juga: Mekanisasi Modern untuk Swasembada Pangan di Jawa Timur

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memperkenalkan dua teknologi pengelolaan lahan tanpa bakar melalui mekanisasi pertanian dan aplikasi mikroba dekomposer. Teknologi itu ramah lingkungan karena tidak menimbulkan kebakaran yang menyebabkan bencana asap. Balitbangtan Kementan terus berupaya menghasilkan berbagai inovasi teknologinya seperti Drone Penebar Benih dan Biodekomposer alami dalam mengelola lahan pertanian khususnya di lahan gambut seperti di lokasi ini.

Berdasarkan uji yang dilakukan Kementan, mekanisasi mampu menurunkan biaya produksi sekitar 30% dan mampu meningkatkan produktivitas lahan 33,83%. Penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) juga mempercepat proses produksi. Olah tanah secara manual membutuhkan waktu 320-400 jam/hektare (ha). Sementara dengan alsintan hanya butuh waktu 4-6 jam/ha dan menghemat biaya kerja hingga 40% atau hanya Rp 1,2 juta/ha dibandingkan sebelumnya Rp 2 juta/ha. Sementara prinsip dekomposer adalah usaha untuk mempercepat dekomposisi bahan organik terutama terhadap sisa tanaman berkayu. Penyemprotan dekomposer dilakukan berulang-ulang agar pembusukan serasah berkayu lebih cepat.

Baca juga: BBP Mektan Siap Kembangkan Teknologi Mekanisasi 4.0

Pada keterangan persnya Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Dr. Agung Prabowo mengatakan “Mekanisasi dan dekomposer dapat dipilih sebagai teknik buka lahan, sejak diterbitkannya UU Perkebunan No. 18 tahun 2004, mau tidak mau petani dan perkebunan komersial harus beralih ke teknik penyiapan lahan tanpa pembakaran (zero burning) walaupun tidak mudah dilakukan. Jangan sampai sektor pertanian dan perkebunan dianggap biang keladi bencana, lebih lanjut beliau mengatakan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memberi dampak negatif bagi lingkungan, kesehatan, dan aktifitas perekonomian. Kebakaran umumnya terjadi di lahan gambut terdapat di Provinsi Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Lahan gambut sedang mengalami perubahan penggunaan,” pungkasnya.

Pada kesempatan lain Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Penggunaan, Dr. Husnain, MSc, menerangkan tahapan- tahapan penyiapan lahan tanpa bakar. Tahapan pertama, penggunaan excavator untuk membersihkan alang-alang atau semak, selanjutnya pengolahan tanah dengan traktor roda 4 berturut-turut dengan piringan dan rotary. Tahapan berikutnya, penggunaan drone untuk hambur benih di lahan sawah atau seeder di lahan kering, penggunaan dekomposer untuk melapukan bahan organik; dan pembuatan biochar dari tunggul tanaman yang besar. “Biochar ini sangat berperan dalam konservasi air terutama di lahan kering,” terangnya.

Baca juga: Uji Lapang Teknologi Mekanisasi Pertanian 4.0

Penggunaan alat mekanisasi pertanian dalam penyiapan lahan dan tanam bertujuan menciptakan ruang pertumbuhan yang baik bagi perakaran tanaman, menghilangkan sumber/inang penyakit jamur akar putih (JAP), serta meningkatkan efisiensi kerja. “Mikroba dekomposer juga dapat membantu mempercepat pelapukan pangkasan gulma dan sisa tanaman menjadi kompos sehingga pembakaran tidak diperlukan,” kata Husnain.

Semoga saja dengan dikenalkannya inovasi teknologi baru hasil Litbang Kementan dapat memberikan jalan keluar bagi pengelolaan lahan gambut yang tersebar luas di Indonesia, namun yang terpenting adalah kesadaran petani dan pekebun-nya itu sendiri, dimulai dari kita dahulu yang lain pasti akan mengikuti. (TS)


HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...