BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Inovasi Jarwo Super, Dongkrak Produktivitas Gabah

Inovasi Jarwo Super, Dongkrak Produktivitas Gabah

Beras masih menjadi kebutuhan pokok bagi penduduk Sumatera Utara (Sumut). Penambahan jumlah penduduk membuat kebutuhan pokok ini juga menjadi bertambah. Pemerintah berupaya menaikkan jumlah produksi gabah dengan berbagai upaya, mulai melakukan penambahan luas lahan tanam, sampai melakukan berbagai inovasi.

Di Desa Melati II, Dusun Rambe, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Berdagai (Sergai),Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) berkoordinasi dengan BPTP Balitbangtan Sumut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura,  Dinas Pertanian Kabupaten Sergai, penyuluh pertanian dan pihak terkait lainnya melaksanakan Demonstration Farming (Demfarm) akhir pekan lalu.

Salah satu inovasi untuk meningkatkan produksi padi, menurut Kepala Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Sumatera Utara (Sumut) Marino, Jarwo (jajar legowo) Super adalah salah satu inovasi teknologi unggulan  untuk peningkatan produktivitas padi dari Balitbangtan Kementrian Pertanian RI. 

Inovasi ini, untuk mempercepat proses diseminasi inovasi kepada petani pengguna. "Salah satu lokasi yang menjadi pusat kegiatan demfam pada MT II 2018 adalah Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi ini mengingat Serdang Bedagai dapat dijadikan sebagai penopang produksi padi untuk wilayah Sumatera Utara," ujarnya.

Disebutkan Marino, produksi padi di Kabupaten Sergai  sekitar 10% dari total produksi padi Sumut dengan luas lahan/pertanaman berkisar 38.000 hektare. Melalui penerapan inovasi Jajar Legowo Super, kata Marino, dapat menyumbang peningkatkan produksi yang lebih besar lagi.

Secara umum, Kabupaten Sergai memiliki pertanian yang cukup maju di Sumut. Penangkar benih di Kabupaten Sergai cukup dikenal karena mampu memproduksi benih untuk kebutuhan benih lokal dan sekitarnya.

Ia memisalkan, kondisi existing pertanian padi di Kecamatan Perbaungan yang dapat digambarkan sebagai lahan pertanian yang mempunyai agro ekosistem lahan sawah intensif yang terdiri dari lahan irigasi dan tadah hujan, dan mempunyai rata-rata produktivitas 7,5 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

"Teknologi Jarwo Super merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Teknologi ini dihasilkan oleh Balitbangtan setelah melalui penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia," jelasnya. 

Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, bagian penting dari teknologi Jajar Legowo Super adalah penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) dengan potensi hasil tinggi, yaitu Inpari 30, 32, 33, dan ditambah 42, dan Inpari 43.

Kemudian, katanya, Biodekomposer yang diberikan bersamaan pada saat pengolahan tanah (pembajakan kedua),lalu pupuk hayati diaplikasikan melalui seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan status hara tanah yang ditetapkan berdasar perangkat uji Tanah Sawah (PUTS).

Selanjutnya, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali, serta alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (Jarwo rice transplanter) dan panen (combine harvester).

Hasil ubinan yang dilakukan tim peneliti dari Balai Besar (BB) Padi, menghasilkan produktivitas sebesar 8,3 ton per hektare GKP untuk varietas Inpari 32, dan 9,7 ton per hektare GKP untuk Inpari 33. 

Sedangkan petani sekitar yang menanam varietas ciherang dengan teknologi Jarwo Super menghasilkan produktivitas berkisar 7,9 ton per hektare GKP, sementara varietas Mekongga menghasilkan 7,7 ton per hektare GKP. 

�Hasil analisis usaha tani secara rata-rata di pulau Jawa menunjukkan bahwa pendapatan bersih usaha tani padi dengan penerapan teknologi Jarwo Super mencapai Rp 42.487.222 per hektare,� sambungnya.

Sementara dari sisi kelayakan usaha tani, katanya lagi, teknologi Jajar Legowo Super memberikan nilai B/C ratio yang layak sebesar 2,66, lebih tinggi dibanding cara petani dengan B/C ratio 1,48. 

Berdasarkan hasil analisis dan kelayakan usahatani, teknologi Jarwo Super layak secara finansial dan dapat disarankan untuk dikembangkan secara luas oleh petani guna mendongkrak produksi padi nasional menuju swasembada dan swasembada pangan berkelanjutan.

Pelaksanaan kegiatan demfarm sistem budidaya Jarwo Super di Kabupaten Serdang Bedagai, menurut Marino, bertujuan sebagai sarana percontohan dalam mengelola budidaya padi melalui sistem jajar legowo super di lahan sawah irigasi, sebagai sarana diseminasi inovasi teknologi sistem jajar legowo super untuk scalling up dan untuk implementasi paket inovasi teknologi sistem budidaya padi jajar legowo super di lahan sawah irigasi.

Selain itu, lanjut Marino, sasaran utama kegiatan demfarm jarwo super adalah untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan yang dikelola petani di lokasi pengembangan melalui penggunaan varietas unggul dan benih bermutu, aplikasi pupuk hayati, persemaian sistem dapog dan tanam menggunakan alat tanam Indojarwo jarwo transplanter.

Kemudian, aplikasi biodekomposer, jarak tanam jajar legowo 2:1, pengendalian hama dan penyakit terpadu, dan panen menggunakan combine harvester. (ramita harja/ril)

 

Sumber : Medanbisnisdaily