BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Uji Kinerja Mesin Tanam Biji Jagung Tipe Pneumatic 

Uji Kinerja Mesin Tanam Biji Jagung Tipe Pneumatic 

Carita, 14/11/2018. Kebutuhan jagung di Indonesia selalu meningkat terutama untuk sumber pakan. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut agroindustri produksi jagung perlu dilakukan melalui ekstensifikasi lahan serta intensifikasi sarana produksi, termasuk penggunaan alsintan.

Baca juga: Tingkatkan Kinerja Prototipe Mesin Rota Tanam dengan Uji Lapang

Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian dalam rangka mendukung program Kementan dalam swasembada jagung, telah mengembangkan mesin tanam biji jagung tipe pneumatic. Mesin ini berfungsi selain menanam juga sekaligus proses pemupukan, sehinggga bisa menghemat waktu proses pemupukan.

Baca juga: Pengembangan Mesin Tanam dan Pemupukan Untuk Benih Kedelai dan Jagung (2000)

Prototipe ini terdiri dari 4 (empat) rows penanam dan pemupuk,  jarak tanam adjustable 20-30 cm, dengan system penanaman pneumatic seeder. Kelebihan dari system pneumatic adalah dalam pengaturan jarak tanam biji dalam baris dilakukan dengan mekanisme pneumatic (hisab), sehingga dapat mengurai missing hill. Jumlah benih per lubang satu buah, sehingga kebutuhan benih per hektar dapat berkurang sampai dengan 50%, dibandingkan dengan sistem metering device mekanis.

Baca juga: Pengembangan Mesin Tanam Jagung, Kedele, Padi Skala Besar (1998)

Uji kinerja prototipe kali ini merupakan yang ketiga kalinya, yang sebelumnya telah dilakukan di TSEP BBP Mektan dan di Desa Manis Renggo, Kec, Prambanan, Klaten, Jateng.

Hasil uji kinerja yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 November 2018 di Carita, Banten, menunjukkan hasil uji bahwa alsin dapat berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan pada komponennya. Mesin ini dioperasikan dengan penggerak traktor roda 4, kapasitas kerja mencapai 2-3 jam/ ha, dengan jumlah benih 1 buah/ jatuhan. (SU)

Teknologi Unggulan Balitbangtan Hadir Lagi Di Agro Inovasi Fair 2018 

Teknologi Unggulan Balitbangtan Hadir Lagi Di Agro Inovasi Fair 2018 

Bogor, 8/11/2018. Agro Inovasi  Fair (AIF) on the spot hadir lagi di penghujung tahun 2018. Kegiatan ini menampilkan berbagai inovasi teknologi Balitbangtan hasil invensi peneliti dan perekayasa Balitbangtan.

AIF kali bersinergi dengan kegiatan Pangan Lokal Fiesta serta Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional Peragi, yang dilaksanakan di kawasan Agro Science Techno Park (BASTP), Bogor, pada tanggal 7-9 November 2018.

Baca juga: Agro Inovasi Fair 2018: Percepat Invensi menuju Inovasi

Peserta Expo AIF diikuti oleh UK/UPT Balitbangtan, TTP Cigombong serta tenant inkubator teknologi Balitbangtan, seperti yoghurt probiotik, mie cokelat, jus ubi ungu - orange serta es krim ubi ungu, dan olahan Ayam KUB. Selain itu, Expo AIF juga menampilkan aneka varietas krisan yang dibudidayakan oleh tenant inkubator serta anggrek hasil pemuliaan Balithi, serta pertanian perkotaan berupa teknologi microgreen dan vertiminaponik.

Baca juga: Mesin Tanam Bawang dan Pompa AP-S100 hybrid Ikut Meramaikan Agro Inovasi Fair 2017

Expo ini juga sangat menarik pertanian anak-anak dengan adanya edukasi pertanian usia dini untuk anak SD. Selain mendapatkan pengetahuan mengenai tanaman cabai, mereka juga paktek langsung bagaimana menanam cabai di polibag.

Baca juga: Agro Inovasi Fair 2016 : Sarana Promosi Hasil Inovasi Balitbangtan

Selain edukasi pertanian, anak-anak juga juga diberi wawasan tentang teknologi terbaru autonomus tractor hasil perekayasaan BBP Mektan. Teknologi ini dapat dioperasikan dengan menggunakan program tanpa harus ada operator di atas tractor. Teknologi ini cukup menarik perhatian anak-anak, diharapkan dengan pengetahuan mereka tentang teknologi pertanian, pada akhirnya dapat menumbuhkan inspirasi mereka setelah dewasa, untuk tertarik dan mengembangan pertanian di Indonesia. (SU)

Optimalisasi Lahan Rawa Bukti Keberhasilan Penggunaan Teknologi Mekanisasi Dan VUB Padi Rawa

Optimalisasi Lahan Rawa Bukti Keberhasilan Penggunaan Teknologi Mekanisasi Dan Vub Padi Rawa

Barito Kuala, 18/10/2018. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) berkomitmen mewujudkan kemandirian pangan. Salah satunya, melalui optimalisasi lahan rawa sebagai lahan suboptimal untuk pertanian produktif. 

Isu optimalisasi lahan rawa ini menjadi tema puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 di Kabupaten Barito Kuala Marabahan Kalimantan Selatan, pada Kamis, (18/10/2018). 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada sambutan acara yang bertema optimalisasi pemanfaatan lahan rawa lebak dan pasang surut menuju Indonesia lumbung pangan dunia 2045 menyatakan bahwa keberhasilan konversi lahan di Kalimantan Selatan ini merupakan pembuktian sekaligus harapan untuk masa depan pangan Indonesia.

Baca juga:  Optimalisasi Penggunaan Energi dan Biaya Pada Budidaya Padi

"Kita punya kurang lebih 10 juta hektare lahan rawa yang bisa dimanfaatkan untuk lahan pangan. Jika dikelola dengan baik, nilainya bisa 1.000 hingga 2.000 triliun untuk pendapatan petani," kata Mentan dalam sambutannya. 

"Tujuan lahan rawa di Kalimantan Selatan ini kita bangun adalah agar menjadi solusi permanen saat musim kemarau. Saat musim kemarau terjadi di wilayah lain, lahan rawa di sini tetap akan bisa panen," tambah Mentan. 

Baca juga: Pembukaan Pameran HPS XXXVI 2016 oleh Menteri Pertanian

Keberhasilan optimalisasi lahan rawa ini tidak lepas dari penerapan teknologi berupa penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) padi yang adaptif untuk lahan rawa dipadukan dengan budidaya padi yang tepat. Dengan penerapan teknologi ini maka indeks pertanaman bisa ditingkatkan dari 100 (sekali tanam per tahun) menjadi 300 serta produktivitas juga ikut meningkat dari 2-3 ton menjadi 6-7 ton per hektare.

"Teknologi pengelolaan dan pengolahan air, teknologi pemupukan hayati (Biotara), teknologi pengpuran, perlakuan benih dengan Agrimeth, penanganan hama merupakan kunci keberhasilan tersebut.

Keberhasil utama lainnya yang tak kalah pentingnya adalah dengan penerapan mekanisasi pertanian, mulai dari pembukaan dan pengolahan lahan, pembuatan saluran irigasi, penanaman serta panen. Semua ini merupakan satu kesatuan untuk menunjang optimalisasi lahan rawa. Hal ini juga diungkapkan oleh Mentan bahwa “Kita menerapkan mekanisasi, tanpa mekanisasi kita tidak mungkin dapat bersaing dengan Negara-neraga lain”.(Wira)

Autonomous Traktor Teknologi BBP Mektan Tampil pada Pameran ISE 2018

Autonomous Traktor Teknologi BBP Mektan Tampil pada Pameran ISE 2018

Serpong, 2/11/2018. BBP Mektan tergabung dalam stand Badan Litbang Pertanian berpartisipasi dalam kegiatan pameran Indonesia Science Expo (ISE) 2018, dengan menampilkan teknologi terbaru Autonomus Tractor yaitu teknologi tractor yang dapat dioperasikan tanpa awak. 

Baca juga: Autonomous Tractor Inovasi Teknologi Mekanisasi Pertanian Modern Mendukung Revolusi Industri 4.0

Autonomus tractor ini dapat berfungsi untuk  mengolah tanah dengan menggunakan Traktor Roda  4 dengan system kemudi yang dapat dikendalikan secara otomatis. Traktor otonom ini dapat melakukan pengolahan lahan sesuai dengan peta perencanaan dengan akurasi                 5-25 cm. Sistem navigasi yang digunakan GPS berbasis Real Time Kinematika (RTK). Sistem kontrol pada traktor terdiri atas pengendalian stir, gas, gear, rem dan kopling. Sedangkan untuk aplikasi pengolahan lahan digunakan pengendalian implemen dan PTO. 

Baca juga: Autonomous Tractor Hadir Dalam Gelar Inovasi Teknologi

ISE kali ini merupakan tahun ke-3, yang dilaksanakan di Indonesia Convention Exchibition (ICE) BSD. ISE berlangsung selama 4 hari dari tanggal 1-4 Nopember 2018, dengan tema Celebration Science and Innovation. 

Presiden Joko Widodo dalam pembukaan menyampaikan bahwa ketidakmungkinan dan keterbatasan bisa diterobos oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Dengan teknologi juga akan membawa Indonesia tetap mampu berjalan beriringan dengan  negara maju di dunia ini, tambahnya. 

Baca juga: BBP Mektan Launching Teknologi Terbaru Jajar Legowo Riding Transplanter

Lembaga penelitian pada masa sekarang adalah pusat untuk menjadikan eksistensi Indonesia di luar sana. Oleh karena itu maka setiap Lembaga penelitian termasuk LIPI harus bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri  untuk terus mengembangkan teknologi yang bermanfaat guna mendukung kemajuan dan kemandirian bangsa. (SU)

Mesin Tanam dan pemasang Dripline Terintegrasi Permudah Pengairan dan Pertanaman Tebu

Mesin Tanam dan pemasang Dripline Terintegrasi Permudah Pengairan dan Pertanaman Tebu

Pengairan menjadi komponen penting dalam pertanaman komoditas pertanian. Namun pengairan/irigasi yang tidak tepat justru membuat pertanaman menjadi tidak efisien dan efektif.  Model pengairan pada pertanaman tebu yang umum digunakan adalah irigasi permukaan salah satunya dengan memompa air embung kemudian dialirkan melalui pipanisasi dan lahan kemudian digenangi. Model pengairan lainnya dengan menggunakan big gun sprinkle, cara tersebut tidak efisien karena air akan banyak yang terbuang.

Serupa dengan komoditi pangan lainnya, pertanaman tebu juga mengalami permasalahan yang serupa dalam tenaga kerja dan sumber air. Oleh karena itu perlu adanya irigasi yang efisien, efektif dan terkendali, salah satu model irigasi yang bisa digunakan adalah irigasi tetes (drip irrigation). Dengan penggunaan irigasi tetes ini, pengairan dilakukan di sekitar perakaran, disesuaikan kebutuhan per tanaman. 

Irigasi tetes disebut juga sebagai smart irrigation (irigasi pintar) karena debit air bisa dikendalikan sesuai kebutuhan tanam, komponen pupuk juga bisa diatur bahkan dikembangkan dengan full mekanisasi. "Irigasi tetes ini tergolong tipe sub surface yaitu irigasi yang ditanam dibawah tanah dan dilakukan dengan menggunakan dripline. Berbeda dengan model irigasi pertanaman tebu sebelumnya yang membutuhkan pembuatan pipa,,bnnisasi, irigasi tetes ini hanya menggunakan pipa paralon yang sudah diintegrasikan dengan dripline

Irigasi tetes merupakan irigasi bawah permukaan sehingga dripline perlu dibenamkan sedalam 15-17 cm dibawah tanah dan dibutuhkan alat untuk bisa membenamkannya saat bertanam tebu. Karena itu, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) membuat alat tanam tebu sekaligus pemasang dripline. 

Mekanisme kerjanya alat ini adalah sebagai berikut :

  • Mesin penanam tebuini ditarik dengan traktor roda 4 sambil memasang driplinenya sekaligus bertanam tebu. Bibit tebu ditanam  5 cm diatas dripline dan alsin dilengkapi dengan pembuka alur dan penutup alur sehingga dalam satu kali operasional bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus. bibit tebu ditanam dalam keadaan rebah karena akarnya akan muncul dari mata tunas yang ada di setiap ruas. "Dipilih bibit dengan usia 6-8 bulan. Bibit tebu sendiri dalam bentuk lonjoran kemudian dipotong dengan ukuran 30-40 oleh pisau yang disetting dalam alsintan tanam.
  • Dripline yang dipasang denganmesin tanam tebu disesuaikan panjang lahan hingga 100 meter agar bisa menghasilkan tetesan yang optimal dan seragam. 
  • Driplinedipasang di bawah tanah (subsurface) dan bagian ujung disambungkan dengan pipa utama,  air kemudian dibuka dengan tekanan 2 bar sehingga dripline yang tadinya pipih akan menyerupai pipa yang mengeluarkan air dalam bentuk tetes.
  • Perlahan namun pasti, tetesan air dari driplineakan menetes dan menjadi sumber air dari perakaran tebu. Bahkan petani tidak perlu lagi melakukan pemupukan di permukaan karena pengairan dari dripline bisa dicampurkan dengan pupuk cair sehingga bisa diserap akar seiring penyerapan air. 
  • Sumber airbisa menggunakan air embung maupun air tanah yang dipompa kemudian disalurkan terlebih dahulu pada filter untuk kemudian masuk kedalam pipa utama dan dripline.  Sedangkan perawatannya, cukup lakukan pengecekan berkala pada filter agar tidak ada yang menyumbat dan air masih bisa mengalir.
  • Driplineini lebih optimal digunakan dalam kondisi lahan datar tetapi bisa juga untuk lahan dengan kemiringan kurang dari 45 derajat, hanya saja konsumsi tenaga pompa untuk mengalirkan airnya harus lebih besar sehingga tidak efisien lagi. Penggunaan dripline ini sendiri bisa digunakan dalam 5 kali pertanaman tebu sebelum akhirnya dibongkar ratun. Sehingga bisa efisien dalam penggunaan air namun bisa tetap berproduksi tinggi dengan kualitas terbaik.

Dalam mengoperasikan mesin ini, hanya perlu 2-3 operator saja dimana 1 orang sebagai operator traktor, 2 orang operator bibit. Alat ini mampu mengerjakan lahan seluas 2 ha dalam satu hari saja. Sehingga efisien dalam waktu dan tenaga kerja. Dalam penggunaan mesin ini, kondisi tanah yang bisa digunakan adalah tanah berpasir, apabila tanahnya berlempung tinggi, sebaiknya pengoperasian alat dilakukan pada saat kering. (SU/Wira)