BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Mesin Tanam dan pemasang Dripline Terintegrasi Permudah Pengairan dan Pertanaman Tebu

Mesin Tanam dan pemasang Dripline Terintegrasi Permudah Pengairan dan Pertanaman Tebu

Pengairan menjadi komponen penting dalam pertanaman komoditas pertanian. Namun pengairan/irigasi yang tidak tepat justru membuat pertanaman menjadi tidak efisien dan efektif.  Model pengairan pada pertanaman tebu yang umum digunakan adalah irigasi permukaan salah satunya dengan memompa air embung kemudian dialirkan melalui pipanisasi dan lahan kemudian digenangi. Model pengairan lainnya dengan menggunakan big gun sprinkle, cara tersebut tidak efisien karena air akan banyak yang terbuang.

Serupa dengan komoditi pangan lainnya, pertanaman tebu juga mengalami permasalahan yang serupa dalam tenaga kerja dan sumber air. Oleh karena itu perlu adanya irigasi yang efisien, efektif dan terkendali, salah satu model irigasi yang bisa digunakan adalah irigasi tetes (drip irrigation). Dengan penggunaan irigasi tetes ini, pengairan dilakukan di sekitar perakaran, disesuaikan kebutuhan per tanaman. 

Irigasi tetes disebut juga sebagai smart irrigation (irigasi pintar) karena debit air bisa dikendalikan sesuai kebutuhan tanam, komponen pupuk juga bisa diatur bahkan dikembangkan dengan full mekanisasi. "Irigasi tetes ini tergolong tipe sub surface yaitu irigasi yang ditanam dibawah tanah dan dilakukan dengan menggunakan dripline. Berbeda dengan model irigasi pertanaman tebu sebelumnya yang membutuhkan pembuatan pipa,,bnnisasi, irigasi tetes ini hanya menggunakan pipa paralon yang sudah diintegrasikan dengan dripline

Irigasi tetes merupakan irigasi bawah permukaan sehingga dripline perlu dibenamkan sedalam 15-17 cm dibawah tanah dan dibutuhkan alat untuk bisa membenamkannya saat bertanam tebu. Karena itu, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) membuat alat tanam tebu sekaligus pemasang dripline. 

Mekanisme kerjanya alat ini adalah sebagai berikut :

  • Mesin penanam tebuini ditarik dengan traktor roda 4 sambil memasang driplinenya sekaligus bertanam tebu. Bibit tebu ditanam  5 cm diatas dripline dan alsin dilengkapi dengan pembuka alur dan penutup alur sehingga dalam satu kali operasional bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus. bibit tebu ditanam dalam keadaan rebah karena akarnya akan muncul dari mata tunas yang ada di setiap ruas. "Dipilih bibit dengan usia 6-8 bulan. Bibit tebu sendiri dalam bentuk lonjoran kemudian dipotong dengan ukuran 30-40 oleh pisau yang disetting dalam alsintan tanam.
  • Dripline yang dipasang denganmesin tanam tebu disesuaikan panjang lahan hingga 100 meter agar bisa menghasilkan tetesan yang optimal dan seragam. 
  • Driplinedipasang di bawah tanah (subsurface) dan bagian ujung disambungkan dengan pipa utama,  air kemudian dibuka dengan tekanan 2 bar sehingga dripline yang tadinya pipih akan menyerupai pipa yang mengeluarkan air dalam bentuk tetes.
  • Perlahan namun pasti, tetesan air dari driplineakan menetes dan menjadi sumber air dari perakaran tebu. Bahkan petani tidak perlu lagi melakukan pemupukan di permukaan karena pengairan dari dripline bisa dicampurkan dengan pupuk cair sehingga bisa diserap akar seiring penyerapan air. 
  • Sumber airbisa menggunakan air embung maupun air tanah yang dipompa kemudian disalurkan terlebih dahulu pada filter untuk kemudian masuk kedalam pipa utama dan dripline.  Sedangkan perawatannya, cukup lakukan pengecekan berkala pada filter agar tidak ada yang menyumbat dan air masih bisa mengalir.
  • Driplineini lebih optimal digunakan dalam kondisi lahan datar tetapi bisa juga untuk lahan dengan kemiringan kurang dari 45 derajat, hanya saja konsumsi tenaga pompa untuk mengalirkan airnya harus lebih besar sehingga tidak efisien lagi. Penggunaan dripline ini sendiri bisa digunakan dalam 5 kali pertanaman tebu sebelum akhirnya dibongkar ratun. Sehingga bisa efisien dalam penggunaan air namun bisa tetap berproduksi tinggi dengan kualitas terbaik.

Dalam mengoperasikan mesin ini, hanya perlu 2-3 operator saja dimana 1 orang sebagai operator traktor, 2 orang operator bibit. Alat ini mampu mengerjakan lahan seluas 2 ha dalam satu hari saja. Sehingga efisien dalam waktu dan tenaga kerja. Dalam penggunaan mesin ini, kondisi tanah yang bisa digunakan adalah tanah berpasir, apabila tanahnya berlempung tinggi, sebaiknya pengoperasian alat dilakukan pada saat kering. (SU/Wira)