Mesin panen padi tipe sisir (stripper) Gunung biru tipe st-600

Mesin penyisir padi Gunung Biru tipe ST 600 bekerja memanen padi dengan cara menyisir tegakan tanaman padi, mengambil butiran padi dari malainya dan meninggalkan tegakan jerami di lapangan (gambar 1).  Mesin ini sangat potensial dalam penghematan tenaga panen dibidang metoda panen secara mekanis.   Mesin ini dirancang khusus untuk dapat dioperasikan di lahan sempit dimana “combine harvester” tidak dapat beroperasi.

Mesin penyisir padi Gunung Biru tipe ST 600 adalah “Walking Type” operator berjalan dibelakang mesin saat beroperasi.   Sebelum beroperasi, operator melakukan penyetelan tinggi rendahnya skid mesin sedemikian rupa sehingga tinggi moncong sesuai dengan tinggi tanaman padi yang akan dipanen.   Sambil berjalan, operator mengendalikan kecepatan mesin, mengarahkan moncong mesin (gathering), dan memprediksi isi gabah pada bok penampung, serta menentukan saat bongkar muat bok.   Keunggulan “Walking Type” adalah moncong mesin mampu dioperasikan untuk menghisap padi yang rebah atau butiran padi yang tercecer di permukaan tanah sedemikian rupa sehingga layaknya perkakas “Vacum Cleaner” yang sedang beroperasi

Mesin ini difabrikasi oleh CV. Adi Setia Utama Jaya di Surabaya, fabrikan tidak bertanggung jawab terhadap kualitas produk-produk modifikasi mesin hasil duplikasi oleh fabrikan lain tanpa seijin CV. Adi Setia Utama Jaya di Surabaya.   Buku petunjuk ini memuat “Cara pemakaian” mesin penyisir padi Gunung Biru tipe ST 600.

Uji Kinerja dan Modifikasi Stripper Padi untuk mendukung Pengembangan Lahan Pasang Surut

Uji Kinerja dan Modifikasi Stripper padi untuk Mendukung Pengembangan Lahan Pasang Surut merupakan salah satu bagian kegiatan pada Program On-Top Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Lahan Pasang Surut Kawasan PLG (Badan Litbang Pertanian) sebagai pelaksanaan INPRES nomor 2 tahun 2007, dengan maksud untuk melakukan uji kelayakan mesin Stripper (Reverse Engineering), ditinjau dari aspek teknis, dan ekonomis dan analisa perbandingan dengan kinerja berbagai cara panen di sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Sejarah Mesin Pemanen Padi Stripper Harvester Gathered (Rancangan IRRI) di perkenalkan di Indonesia pada Tahun 1993 s/d 1996 melalui Proyek GTZ dan Proyrk IRRI, bekerjasama dengan Institusi : (1) IPB, Bogor ; (2) Balitpa Sukamandi  ; (3) Proyek Pasang Surut ISDP; dan (4) BBP Mektan, lokasi pengembangan yang dipilih adalah Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Sumatera Selatan, dan Bengkel Pengrajin yang ditunjuk untuk proses fabrikasi adalah PT. Adi Setia Utama Jaya, Surabaya, akan tetapi di pulau Jawa mesin ini belum berkembang.

Mesin Perontok Padi Multiguna

Kegiatan perontokan biji-bijian khususnya padi dilakukan setelah kegiatan panen (memotong tegakan batang tanaman padi menggunakan perkakas sabit atau mesin reaper).   Kegiatan perontokan ini dapat dilakukan secara tradisional (manual) atau menggunakan mesin perontok.   Seacara tradisional kegiatan perontokan akan menghasilkan susut tercecer yang relatif besar , mutu yang kurang baik akibat busuk tak sempat terontok, dan membutuhkan tenaga yang cukup melelahkan.   Mesin perontok dirancang untuk mampu memperbesar kapasitas kerja dan meningkatkan effisiensi kerja sehingga akan diperoleh mutu hasil yang baik dan susut tercecer yang kecil.   Bermacam-macam jenis dan merk mesin perontok padi dapat dijumpai di Indonesia, mulai dari yang mempunyai kapasitas kecil, sedang, hingga kapasitas besar (mobile).

Di Indonesia Thresher mulai populer di masyarakat pada tahun 60-an saat dimulainya Revolusi hijau yaitu mulai diperkenalkannya jenis varietas baru padi oleh IRRI (International Rice Risearch Institute) yang berkantor pusat di Philipina.  Jenis varietas padi IR saat itu mampu memberikan hasil yang sangat signifikan apabila ditanam secara intensif sehingga pada tahun 1985 Indonesia mulai mengalami “Swasembada Beras”.    Bersamaan dengan pengembangan jenis varietas padi IR di Indonesia dan didukung oleh sumber dana dari USAID di institusi Departemen Pertanian lahirlah proyek kerjasama yang disebut dengan Proyek IRRI_DITPROD (1980 – 1990) yaitu proyek pengembangan pengrajin kecil alat dan mesin pertanian di Indonesia (Hand Traktor, Transplanter, Pompa Air, Thresher, Dryer, Seeder, Reaper, Weeder, dsb) yang berkaitan erat dengan produksi padi/beras.    Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada saat itu adalah alsintan mini buatan Jepang yang suku cadangnya masih di-impor oleh dealer-dealer pemegang merk swasta (seperti : Yanmar, Kubota, Iseki, Satoh, Mutoh, dsb.).

Mesin Panen Padi Tipe Sisir Irri Sg 800

Mesin penyisir padi tipe SG 800 bekerja memanen padi dengan cara menyisir tegakan tanaman padi, mengambil butiran padi dari malainya dan meninggalkan tegakan jerami di lapangan (gambar 1).  Mesin ini sangat potensial dalam penghematan tenaga panen dibidang metoda panen secara mekanis.   Mesin ini dirancang khusus untuk dapat dioperasikan di lahan sempit dimana “combine harvester” tidak dapat beroperasi.

Mesin dirancang atas kerjasama divisi “Agriculural Engineering - IRRI” di Philippine dengan “Silsoe Research Insitute” di Inggris yang telah mengembangkan mesin penyisir yaitu : tipe SG 800 dan tipe modifikasinya.   Buku petunjuk ini memuat “Cara pemakaian” mesin penyisir padi tipe SG 800. Ikutilah buku petunjuk ini secara seksama agar dapat memperoleh keuntungan dalam pengetrapan mesin penyisir padi tipe SG 800 ini.   Buku petunjuk ini dapat dipakai sebagai buku pegangan pengoperasian bagi anda yang berminat dibidang panen padi.

Buku Petunjuk Penggunaan Unit Pembibitan Padi Hemat Lahan

Beras sebagai bahan pangan pokok sebagian besar penduduk Indonesia merupakan unsur penting dalam sistem ketahanan pangan nasional. Untuk hal tersebut usahatani padi masih merupakan tulang punggung ekonomi pedesaan. Beberapa kajian pasokan dan permintaan beras menunjukkan bahwa dalam jangka panjang Indonesia masih memerlukan impor beras untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat. Sebagai konsekuensinya diperlukan strategi peningkatan produksi padi dalam 10 tahun kedepan, melalui intensifikasi dan ekstensifikasi terbatas. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi beras dari tahun ke tahun makin melebar dan perlu kewaspadaan kita bersama. Sementara itu luas daerah irigasi yang terdiri atas irigasi teknis, seni teknis, sederhana dan pedesaan  mencapai 7,28 juta ha, dengan 6,4 juta ha diantaranya merupakan jaringan irigasi yang fungsional. Usaha untuk mempertahankan peranan usahatani padi harus diarahkan ke efisiensi sarana produksi dan peningkatan mutu intensifikasi dalam aspek pelayanan dan kelembagaan. Sistem usahatani yang akan dikembangkan adalah usahatani hemat lahan. Agar memiliki usahatani yang menarik maka nilai ekonomi komoditas padi harus lebih kompetitif.

Salah satu tahap dalam kegiatan budidaya padi sawah adalah  penanaman bibit. Kegiatan ini memerlukan sekitar 25% dari  seluruh kebutuhan tenaga kerja budidaya. Ditambahkan pula bahwa berdasarkan jadwal air ataupun musim tanam tidak dikehendaki selang waktu yang terlalu lama antara lahan yang satu dengan yang lain. Dengan kondisi demikian pengerahan tenaga tanam sangat diperlukan. Dalam hal terjadinya keterbatasan tenaga kerja, peranan alsintan dalam hal penyediaan maupun penanaman bibit sangat diperlukan.

Melihat permasalahan tersebut di atas maka perlu adanya suatu usaha peningkatan intensifikasi pertanian dengan dukungan mekanisasi. Penanaman sebagai salah satu tahap budidaya yang banyak menyerap tenaga kerja berpeluang untuk dialihkan kearah mekanisasi. Sebagai bagian dari kegiatan tanam maka kegiatan penyediaan bibit atau persemaian juga harus dilaksanakan secara intensif.

HIGHLIGHT

Portal PPID BBP Mektan

Informasi Publik

mail Litbang

Zona Integritas

Lelang Pengadaan

POLLING

Darimanakah Anda Mengetahui BBP Mektan ?

F A Q

Q : Apa yang dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Q : Mengapa harus menggunakan Mekanisasi Pertanian, Apa tujuannya?

Q : Apa saja Jenis Pengujiannya?

Q : Bagaimana prosedur dan persyaratan pengujian alat dan mesin pertanian

 Selengkapnya...