BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang buahnya menjadi andalan eksport Indonesia. Nilai ekspor buah manggis memberikan sumbangan besar terhadap total nilai ekspor buah sebesar 30%. Namun dari total produksi manggis, hanya 5-20% saja buah yang layak ekspor. Penyebab utama rendahnya kualitas buah manggis adalah munculnya getah kuning baik dipermukaan buah maupun di dalam daging buah. Hasil penelitian melaporkan bahwa munculnya getah kuning pada buah manggis salah satunya dipengaruhi oleh fluktuasi kadar air dalam tanah selama fase pembungaan, perkembangan buah sampai panen. Pohon manggis yang kandungan lengas tanahnya tidak terjaga pada saat menjelang musim berbuah, maka tanaman tidak akan berbunga secara optimal. Semakin besar perubahan kadar air selama masa perkembangan buah maka timbulnya getah kuning buah juga semakin tinggi. Kandungan getah kuning pada buah manggis dapat dikurangi dengan cara pemberian pupuk kalsium dan pengendalian fluktuasi kadar lengas tanah melalui pemberian air pada tanaman manggis secara teratur dan terkendali. Oleh karena itu perlu dilakukan rekayasa alat fertigasi (fertilizer and irrigation) yang berguna untuk pemberian air irigasi dan pemberian pupuk kalsium pada tanaman manggis secara teratur dan terkendali. Pemberian air irigasi yang terkendali diharapkan dapat menjaga kadar lengas tanah agar tidak berfluktuasi sehingga dapat mengurangi munculnya getah kuning pada buah manggis. Tujuan  penelitian/perekayasaan ini adalah melakukan rancangbangun alat fertigasi untuk budidaya manggis yang dapat berfungsi untuk pemupukan dan pemberian air irigasi yang terjaga baik melalui sistem irigasi tetes sederhanan maupun sistem kontrol yang terkendali sehingga produktivitas buah meningkat dan menurunkan getah kuning pada buah manggis.
Dua prototipe alat fertigasi sudah dikembangkan yaitu prototipe sistem irigasi tetes sederhana dan prototipe alat fertigasi otomatis. Prototipe sistem irigasi tetes sederhana didasarkan pada prinsip gravitasi dan dilengkapi dengan tower penampung air setinggi 8 m. Pemberian air tanaman didasarkan pada jumlah kebutuhan air tanaman manggis yaitu sebanyak 50 L/pohon/hari. Pemberian pupuk dilakukan secara manual di sekitar akar tanaman manggis. Sedangkan pada prototipe alat fertigasi otomatis dilengkapi dengan sensor lengas tanah dan sistem kontrol nilai EC dan timer sehingga pemberian pupuk dan air irigasi pada tanaman manggis dilakukan secara terkendali sesuai dengan dosis pemupukan dan kebutuhan air tanaman. Hasil pengujian di lapang menunjukkan bahwa ke dua prototipe baik yang sederhana maupun yang otomatis dapat berfungsi dan bekerja secara baik dalam pemberian air irigasi pada tanaman manggis. Prototipe alat fertigasi dengan sistem kontrol otomatis telah dapat berfungsi untuk mencampur larutan pupuk dan air irigasi secara otomatis sesuai dengan nilai tingkat konsentrasi pupuk (nilai EC) yang diinginkan.
Tingkat keseragaman distribusi keluaran air dalam sistem jaringan irigasi tetes pada alat fertigasi sederhana dapat dikategorikan sangat baik, dengan nilai DU sebesar 89,66%. Sedangkan tingkat keseragaman distribusi keluaran air dalam sistem jaringan irigasi tetes pada alat fertigasi otomatis dapat dikategorikan baik, dengan nilai DU sebesar 80,8%.  Pemberian air irigasi per hari sebanyak 30 L, 40 L, dan 50 L pada tanaman manggis selama pembungaan dapat menurunkan prosentase buah manggis yang terkena getah kuning rata-rata sebesar 59,64%. Tanaman manggis yang diberi air irigasi tetes 40 L/hari menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain.
Pemberian air irigasi tetes dengan alat irigasi tetes sederhana pada tanaman manggis dapat diberikan dalam dua kali sehari pada waktu pagi dan sore hari masing-masing selama 1 jam, sedangkan dengan alat fertigasi otomatis diberikan secara terkendali berdasarkan kandungan lengas tanah disekitar tanaman manggis.