BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Swasembada pangan khususnya beras merupakan salah satu program utama pembangunan pertanian. Untuk mewujudkan swasembada beras lestari pemerintah telah mencanangkan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Melalui program tersebut diproyeksikan produksi beras di Indonesia pada tahun 2008 hingga tahun 2020 menunjukkan peningkatan dari 34 juta menjadi 37,5 juta Ton. Namun demikian, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk jumlah konsumsi diprediksikan juga meningkat tajam dari 31,3 juta ton (2002) menjadi 36 juta ton pada tahun 2020. Kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan terutama jika terdapat masalah bencana alam banjir, kekeringan maupun konversi lahan yang mengakibatkan penurunan produksi padi. Untuk itu diperlukan usaha lain dalam rangka peningkatan produksi padi yaitu dengan cara peningkatan indek pertanaman (IP) padi yang telah ada menjadi IP 400. Peningkatan IP padi 400 merupakan salah satu usaha peningkatan produksi padi dengan cara menanam dan memanen padi empat kali dalam setahun. Pengembangan padi IP 400 dapat dicapai apabila didukung oleh sarana berupa penerapan alat mesin pertanian yang tepat disamping penggunaan varietas padi yang berumur sangat pendek 75 – 85 hari. Untuk mendukung program tersebut Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian mengembangankan paket teknologi alat dan mesin (alsin) budidaya padi untuk mendukung pengembangan padi IP 400 dan telah diujicoba pada skala demplot.
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan mengembangkan paket teknologi alsin budidaya padi IP 400 yang sudah teruji pada skala demplot di beberapa wilayah pengembangan padi IP-400 dalam rangka mendukung peningkatan produksi padi Nasional. Paket teknologi alsin yang dikembangkan dan diterapkan adalah mesin panen padi tipe gendong (paddy mower), mesin perontok padi (power thresher), dan alat pencacah bahan pupuk organik (APPO). Secara rinci tujuan penelitian ini adalah melakukan penerapan paket teknologi alat mesin pertanian yang telah direkomendasikan di beberapa wilayah pengembangan budidaya padi IP-400; melakukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan paket teknologi alat mesin pertanian budidaya padi IP-400; melakukan monitoring penerapan paket teknologi alsin yang telah direkomendasikan di lokasi pengembangan; melakukan evaluasi teknis dan ekonomis penggunaan paket teknologi alsin; menyusun rekomendasi teknis dan ekonomis pengembangan paket teknologi alsin; melakukan validasi terhadap model simulasi kebutuhan alat mesin pertanian untuk budidaya padi IP 400. Target utama penerapan paket alsin adalah untuk mempercepat alokasi musim tanam dan meningkatkan kapasitas dan efisiensi kerja dalam budidaya padi IP 400.
Pengembangan dan penerapan paket alsin dilakukan dengan mengintroduksikan paket alsin di beberapa demplot pengembangan padi IP-400 yang telah direkomendasikan. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk percepatan penggunaan alat mesin pertanian di sentra-sentra produksi padi. Adapun metode pelaksanaannya melalui pendampingan dan sosialisasi penggunaan alsin, monitoring dan evaluasi penerapan paket alsintan. Kegiatan pendampingan dilakukan melalui pelatihan operator dan demo penggunaan masing-masing paket alsin yang telah ditetapkan. Kegiatan pelatihan operator dan demo dilaksanakan baik di BBP Mektan maupun di masing-masing lokasi pada saat pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Untuk mempercepat proses transfer teknologi dan mempermudah penerapan alsin di lapangan khususnya yang terkait cara pengoperasian masing-masing alsin, maka dibuatkan buku petunjuk pengoperasian (SOP) alsin dan video pengoperasian alsin.
Hasil evaluasi teknis pada penerapan dan pengembangan paket alsin di 12 lokasi pengembangan padi IP 400 memperlihatkan bahwa kinerja mesin pemanen padi (paddy mower) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kondisi lahan, jarak tanaman padi (sistem tanam) dan ketrampilan operator. Kondisi lahan becek dengan foot singkage lebih dari 10 cm dan sistem tanam legowo dengan jarak tanam 10 x 20 cm sangat berpengaruh terhadap kecepatan kerja operator dalam mengoperasikan mesin pemanen. Kapasitas kerja mesin pemanen padi (mower) rata-rata sebesar 27,6 jam/ha atau berkisar antara 22 jam/Ha sampai dengan 30 jam/Ha, tergantung pada kondisi lahan dan sistem penanaman padi. Sedangkan kebutuhan bahan bakar (bensin) berkisar antara 0,65 liter/jam sampai dengan 1,36 liter/jam. Susut hasil maksimum akibat pemotongan dan perebahan tanaman padi berkisar antara 0,2 - 1,6 %. Sedangkan kapasitas kerja mesin perontok rata-rata sebesar 222,4 kg/jam atau berkisar antara 200-276 kg/jam, dengan konsumsi bahan bakar yang digunakan berkisar 1,4 sampai 2,2 liter/jam. Besarnya kapasitas kerja mesin perontok sangat tergantung pada nisbah gabah, panjang jerami, dan keterampilan operator dalam mengumpankan bahan. Makin tinggi nisbah gabah makin besar kapasitas perontokan. Demikian juga makin pendek panjang jerami padi yang dirontok, maka kapasitasnya makin tinggi. Sedangkan keterampilan operator berpengaruh terhadap kecepatan dan kontinyuitas pengumpanan bahan ke dalam mesin perontok. Untuk mesin pencacah jerami padi (APPO) diketahui bahwa kapasitas kerja mesin rata-rata sebesar 413,5 kg/jam atau berkisar antara 318-547 kg/jam, dengan konsumsi bahan bakar yang digunakan berkisar 3,1 sampai 3,3 liter/jam. Besar kecilnya kapasitas kerja mesin tersebut tergantung pada keterampilan operator dan kondisi jerami. Keterampilan operator terkait dengan kecepatan pengumpanan, jumlah bahan yang diumpankan dan kontinyuitas pengumpanan. Penerapan paket alsin panen dan perontok secara teknis layak dikembangkan karena dapat meningkatkan kapasitas dan efisiensi kerja dalam budidaya padi, sehingga dapat mempercepat waktu panen.
Hasil analisis ekonomi penggunaan paket alsin memperlihatkan bahwa peluang penerapan mesin panen dan perontok padi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja yang ada di masing-masing sentra produksi padi, yang diindikasikan dengan besarnya upah tenaga panen (sistem bawon) di masing-masing lokasi pengembangan. Semakin sedikit ketersediaan tenaga kerja atau semakin besar upah bawon bagi kelompok panen maka akan semakin besar peluang penerapan thresher dan mower di lokasi tersebut. Penerapan mesin pemanen dan perontok padi secara ekonomi layak dikembangkan pada daerah dimana upah bagi hasil panen lebih besar dari 1:8 (di atas 12,5 %), dengan sistem pemanenan padi masih dilakukan dengan sistem potong bawah dan dirontok dengan gebot atau pedal thresher. Hal ini terjadi di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Apabila besarnya upah panen sistem bawon di bawah 1:10 (di bawah 10 %), maka penggunaan paket alsin panen dan perontok kurang layak dikembangkan. Biaya operasional penggunaan mesin pencacah jerami untuk bahan pupuk organik (APPO) sebesar Rp. 109.- per kg jerami. Pengolahan jerami dalam satu hektar lahan dihasilkan pupuk organik sebanyak 2,3 ton. Pupuk yang dihasilkan dapat menggantikan sekitar 25% penggunaan pupuk an-organik.
Penggunaan mower, thresher dan APPO sangat besar manfaatnya dalam membantu mempercepat proses pemanenan dan perontokan padi serta pengolahan jerami sisa hasil panen. Penerapan mesin panen dan perontok padi telah dapat mempercepat alokasi waktu kegiatan panen, sehingga masalah keterbatasan waktu dan tenaga kerja khususnya dalam tahap pemanenan padi dapat diatasi sehingga budidaya padi empat kali tanam dalam setahun (IP 400) dapat tercapai.
Berdasarkan hasil evaluasi teknis terhadap kinerja alsin selama uji validasi dan adaptasi di lokasi pengembangan padi IP 400, maka kebutuhan masing-masing alsin untuk luasan demplot 2 Ha yang dihitung dengan menggunakan model simulasi kebutuhan alsin yang telah dikembangkan sebelumnya adalah 7 unit mower, 5 unit thresher dan 3 unit APPO.