BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Susu merupakan sumber energi dan protein tinggi, dengan kadar protein susu segar 3,5% dan kandungan lemak 3,0 s/d 3,8% yang sangat berguna untuk kesehatan manusia. Karena kandungan nutrisi yang tinggi di dalam susu segar, maka susu menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroba, akibatnya susu sangat mudah rusak. Oleh karena itu setelah diperah, susu harus segera diolah sesegera mungkin dengan cara pemberian perlakuan panas. Secara tradsional hal ini telah ditangani dengan penyetabilan susu dengan cara selain dari pendinginan, meliputi mengonsumsi susu hangat segera setelah pemerahan, memasak susu, atau mengolah susu ke dalam produk yang lebih stabil seperti susu yang difermentasi. Dalam kenyataan di lapangan, susu yang dihasilkan para peternak sapi perah kebanyakan langsung dijual ke industri pengolahan susu (IPS). Jumlah susu yang diolah sendiri hanya sekitar 5% dari produksi susu yang dihasilkan. Pengolahan susu yang dilakukan oleh kelompok peternak atau koperasi susu hanya susu pasteurisasi atau yogurt.
Mengingat keterbatasan alat prosesing susu dan mesin pendingin (refrigerator) yang ada di tingkat kelompok peternak sapi perah serta kondisi lingkungan dimana suhu dan kelembaban udara di Indonesia yang relatif tinggi mengakibatkan susu segar mudah mengalami kerusakan sehingga harga jualnya rendah dibandingkan dengan harga susu import. Rendahnya harga jual susu mengakibatkan keuntungan yang diperoleh peternak rendah dan masih sangat tergantung dari pembelian IPS melalui Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Agar peternak sapi perah dapat menikmati usaha dengan keuntungan yang rasional, peternak sapi perah sebaiknya melakukan prosesing susu sehingga produk dapat dipasarkan langsung ke konsumen.
Salah satu alternatif pengolahan susu segar yang sesuai dengan kondisi di Indonesia adalah dengan cara sterilisasi dengan suhu sangat tinggi (Ultra High Temperature) yaitu pemanasan susu pada suhu tinggi (135-145 oC) dan dalam waktu singkat selama 2-5 detik. Melalui proses sterilisasi, susu dapat disimpan pada suhu kamar dalam waktu lama (6-10 bulan) tanpa menggunakan bahan pengawet. Namun demikian peralatan sterilisasi susu yang ada saat ini masih import dengan harga yang sangat mahal, sehingga tidak dapat dijangkau oleh kelompok peternak sapi perah atau koperasi susu. Oleh karena itu perlu dirancang unit sterilisasi susu yang sesuai untuk kelompok ternak sapi perah di pedesaan baik dari segi kapasitas alat maupun harganya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang unit sterilisasi susu tipe kontinyu dengan kapasitas 100 liter per jam yang sesuai dengan kebutuhan untuk kelompok peternak sapi perah dengan harga yang terjangkau dan mudah dioperasikan peternak sapi perah.
Prototipe unit alat sterilisasi susu tipe kontinyu telah berhasil direkayasa dan difabrikasi. Alat sterilisasi yang dirancang menggunakan sistem pemanasan tidak langsung menggunakan alat penukar panas pipa tunggal (single tube heat exchanger), dengan menggunakan sumber panas gas LPG dan media pemanas minyak goreng. Hasil pengujian lapang alat sterilisasi susu menunjukkan bahwa alat sterilisasi yang telah direkayasa memiliki kapasitas kerja sebesar 130 kg/jam, dengan suhu sterilisasi mencapai 129,5 ºC. Debit aliran susu selama proses sterilisasi sebesar 2,19 kg/jam. Rendemen susu yang dihasilkan sebesar 95%. Rata-rata konsumsi gas LPG per jam adalah 1,85 kg. Sedangkan susu UHT yang dihasilkan memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan susu segar, bahkan jika dibandingkan dengan susu UHT yang dijual di supermarket kualitasnya sedikit lebih tinggi. Berdasarkan SNI 01-3950-1998 tentang persyaratan mutu susu UHT, maka susu UHT yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan SNI.
Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa penggunaan alat sterilisasi susu tipe kontinyu hasil rekayasa memberikan nilai R/C sebesar 1,31, dengan BEP  (break event point ) dicapai dalam kurun waktu 29 hari kerja atau setelah pengolahan susu sebanyak 21.121 kg. Dengan nilai R/C lebih besar dari satu maka dapat dikatakan bahwa penggunaan alat sterilisasi susu secara finansial adalah layak. Berdasarkan asumsi bahwa harga susu segar tanpa diolah di tingkat peternak seharga Rp. 3700,- dan susu disterilisasi harganya Rp. 7.000,-per liter (harga susu UHT per liter di supermarket Rp. 11.000,-), maka terjadi kenaikan harga sebesar Rp. 3300,-. Dari kenaikan harga tersebut sebagian digunakan untuk biaya operasional penggunaan alat sterilisasi yaitu sebesar Rp. 1200 per liter, maka masih ada keuntungan sebesar Rp. 2100 per liter atau ada kenaikan pendapatan sekitar 55%. Dengan adanya insentif peningkatan pendapatan tersebut diharapkan berdampak pada peningkatan usaha peternakan sapi perah dan industri pengolahan susu skala kelompok peternak di Indonesia sehingga dapat mendorong peningkatan produksi susu di dalam negeri dan pendapatan peternak sapi perah.