BBP Mektan BBP Mektan - Mekanisasi Pertanian

Paramawati Raffi, Budiharti Uning, Triwahyudi Sigit, Widodo Puji
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Kacang tanah adalah salah satu komoditas tanaman pangan penting di Indonesia, yang rentan terhadap kontaminasi aflatoksin. aflatoksin adalah metabolit sekunder yang dapat menjadi ancaman potensial terhadap keamanan pangan dan pakan, terutama di negara berkembang beriklim tropis seperti Indonesia. Kapang kosmopolit Aspergillus flavus and Aspergillus parasiticus yang tumbuh dalam kacang tanah mungkin memproduksi aflatoksin B1, yang diduga berpotensi karsinogenik. Temperatur dan kelembaban yang relatif tinggi merupakan kondisi yang sangat cocok untuk pembentukan aflatoksin 24 jam setelah panen. Penanganan proses lepas panen yang terkendali segera setelah panen adalh salah satu tindakan untuk mencegah pembentukan aflatoksin.

Dalam penelitian ini dilakukan survei dan pengambilan sampel kacang tanah pada tingkat-tingkat tata niaga untuk mengamati kontaminasi aflatoksin pada  6 propoinsi. Bersama dengan itu dilakukan pula percobaan introduksi alat dan mesin pertanian untuk prosesing, untuk melihat pengaruhnya terhadap kontaminasi aflatoksin dibandingkan dengan teknologi tradisional di tingkat petani. Kandungan aflatoksin dianalisa dengan metode ELISA.

Hasil sampling dari DI Yogyakarta, dimana petani telah melakukan budidaya sesuai anjuran, tidak ditemukan kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah yang baru dipanen di lapang. Petani di Bantul dan Sleman telah melakukan olah tanah, pemupukan 1-2 kali dan pengairan 2-4 kali. Di daerah survei lain pada umumnya belum melakukan budidaya sesuai anjuran. Sampling di Indramayu (Jawa Barat), Tanah Datar (Sumatera Barat) dan Bone (Sulawesi Selatan) menunjukkan kontaminasi aflatoksin B1 yang sangat tinggi, masing-masing 58,1 ; 121,5 dan 43,9 ppb. Terhadap lokasi tersebut teknologi budidaya yang benar perlu lebih digalakkan.

Di tingkat pengumpul kontaminasi yang relatif tinggi ditemukan di Bantul- DIY (37,6 ppb) dan Indramayu-JaBar (94 ppb). Sementara itu kontaminasi aflatoksin B1 di Banten sangat rendah (1,4 – 2,7 ppb). Hasil ini sedikit berbeda dengan sampling yang dilakukan 2 tahun sebelumnya yang mencapai rata-rata 33,3 ppb. Namun hal ini belum dapat dipergunakan untuk membuat suatu kesimpulan, mengingat lokasi sampling berbeda. Seperti halnya data dari Sul Sel yang menunjukkan perbedaan lokasi dengan jarak yang sangat jauh memberikan hasil yang sangat berbeda. Di Tingkat petani (Bone) cukup tinggi, namun di tingkat pengumpul di Baru sangat rendah (tidak terdeteksi – 1 ppb).

Di tingkat pedagang (pasar) kontaminasi tinggi ditemukan di hamper semua lokasi kecuali di Tanah Datar-SumBar (tidak terdeteksi) dan Baru-SulSel (0,4 – 3,8 ppb). Di Indramayu-JaBar, sampling mendapatkan kontaminasi aflatoksin B1 yang sangat tinggi, yaitu 217 ppb. Kontaminasi setinggi ini ditemukan pada kacang ose, yang kemungkinan sudah disimpan dalam waktu yang cukup lama sebelum diperjual belikan. Sementara itu, produk kacang garing yang juga diambil dari Indramayu menunjukkan paparan aflatoksin B1 yang relative rendah, sebesar 7,8 ppb.

Hasil sampling di berbagai pasar di empat kabupaten Lampung menunjukkan paparan kontaminasi aflatoksin B1 pada kacang tanah kupas (ose) bervariasi dari 4.4 sampai dengan 205 ppb dengan rata-rata 69.76 ± 14.82 ppb. Jumlah ini cukup tinggi mengingat ambang batas yang digunakan oleh Badan POM adalah 25-35 ppb meskipun CODEX saat ini memberikan patokan 15 ppb dan sedang dibahas untuk diturunkan menjadi 10 ppb. Meskipun sampling di tingkat petani-pengumpul-pasar di Waykanan dua tahun lalu menunjukkan jumlah kontaminasi yang relatif rendah, yaitu rata-rata 6.73 ppb di petani pada saat panen, 9.82 ppb di pengumpul dan 10.46 ppb di pasar.

Meskipun masalah kontaminasi aflatoksin telah lama diketahui, bahkan telah berpuluh kali diseminarkan di kalangan ilmuwan, namun tidak pernah ada upaya untuk menyebar-luaskannya hingga ke tingkat petani. Dampak negatif dari penyebarluasan informasi bahaya aflatoksin tampaknya dianggap lebih berbahaya dibandingkan dampak aflatoksin terhadap kesehatan manusia. Sebagaimana kasus flu burung misalnya, masyarakat dapat saja menghentikan konsumsi kacang tanah yang tentu akan menimbulkan masalah bagi petani dan pengolah kacang tanah. Dalam simposium mengenai mikotoksin yang belum lama ini diselenggarakan, kalangan dokter Indonesia menyimpulkan bahwa aflatoksin bersifat immunosupression dan bekerja sinergis dengan hepatitis B dalam merusak hati. Oleh sebab itu tidak mengherankan bahwa dalam hati penderita kanker hati ditemukan senyawa aflatoksin.

Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada umumnya masa pembentukan aflatoksin dimulai 24 jam sesudah kacang tanah dicabut dari tanah pertumbuhannya. Oleh sebab itu dengan menurunkan kadar air kacang tanah sesegera mungkin akan dapat meminimalkan terbentuknya aflatoksin. Berdasarkan pengertian tersebut, bekerjasama dengan BBP Mekanisasi Pertanian dilakukan Temu Lapang di Kecamatan Kalirejo – Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan ini merupakan sosialisasi teknologi mekanisasi untuk mempercepat penanganan lepas panen kacang tanah yaitu dengan mengintroduksikan mesin perontok polong, pengering dan pengupas kulit serta wadah penyimpanan hermetis (kedap udara). Hasil percepatan penanganan lepas panen kacang tanah tersebut mencatat kontaminasi aflatoksin B1yang sangat rendah. Kacang tanah hasil budidaya petani yang menjadi obyek temu lapang menunjukkan kontaminasi aflatoksin yang sangat rendah yaitu tidak terdeteksi (<0.4 ppb) hingga 1.0 ppb pada polong kering dan 0.4 hingga 3.8 ppb pada kacang kupas (ose) dengan kadar air rata-rata 11.5%.

Penyimpanan selama 3 bulan dilakukan pada suhu kamar tanpa pengaturan lingkungan. Kacang tanah dikemas dalam plastik hermetik dengan penghilangan sebagian besar udara. Beberapa temuan mengenai plastik hermetik telah mulai dikomersialkan. Sebelumnya orang menggunakan kemasan gelas atau logamsebagai bahan untuk kemasan hermetik. Hasil penyimpanan menunjukkan terjadinya peningkatan aflatoksin B1. Pada polong kering dari kontaminasi rata-rata 0,3 ppb meningkat menjadi 6,3 ppb. Sedangkan pada ose dari rata-rata 1,9 menjadi 19,1. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa menyimpan kacang tanah dalan bentuk kulit lebih menjamin keamanan dan kualitasnya. Meskipun pada kacang ose setelah penyimpanan masih di bawah ambang batas yang diperkenankan USDA (20 ppb), namun kecenderungan  peningkatan akan menghasilkan paparan yang lebih tinggi lagi.